Sabtu, 03 September 2016

Sejarah Perang Dunia II

Operasi Barbarosa 

Ketika Dewan Jenderal Bersepakat Untuk Menentang ‘Fuhrer’ 

 
      Berkaca pada kesuksesan masa lalu, dalam operasi ‘Kuning’ dan ‘Marita’   para Staf jenderal Nazi Jerman mulai dirasuki mabuk kemenangan. Pada Operasi ‘Kuning’ Tentara Nazi Jerman berhasil menggulung Tiga negara sekaligus dalam sekali serang : Perancis, Belgia dan Belanda. Dalam Operasi ‘Marita’ Tentara Nazi Jerman berhasil memukul  dua negara Sekaligus dalam sekali jalan, ‘ Yunani’ dan ‘Yugoslavia’.  Mabuk kemenangan ini banyak sedikitnya mempengaruhi kejiwaan para Staf Jenderal.
     Ketika Perperangan sampai ketitik Puncak - ‘ Barbarosa’ - Perang melawan Soviet Komunis – Dewan Jenderal sedang dalam kondisi Euforia berlebihan. Mereka terlalu Over estimate pada diri sendiri, dan terlalu meremehkan pihak lawan.
     Mental yang superioritas  dan kepercayaan diri berlebih  ternyata mempunyai dampak positif dan negartif pada staf jenderal yang sedang bersiap siap melancarkan ‘Barbarosa’. Kabar baiknya, semangat mereka sangat tinggi, dan semangat pada Prajurit juga sedang ada di puncak..modal awal yang sangat bagus untuk memulai memulai ‘Barbarosa’.  Tapi jeleknya, staf jenderal sekarang bertindak terlalu gegabah dan tidak terlalu dipusingkan oleh Detail. Mereka masuk ke ‘Barbarosa’ dengan data intelijen yang sangat minim. Dinas Intelijen tidak terlalu berkeringat untuk mengumpulkan data data kekuatan pihak lawan. Dan yang lebih berbahaya dibanding itu, dewan jenderal bersepakat sesama mereka untuk melancarkan perang dengan cara mereka sendiri, mengenyampingkan Strategi Umum yang telah digariskan ‘Sang Fuhrer’. Para jenderal menganggap  mereka jauh lebih paham akan taktik dan strategi tempur dibanding ‘Sang Fuhrer’ yang  hanya bekas ‘Sersan Mayor’ itu.
     Strategi Perang ‘Sang Fuhrer’ –Adolf Hitler- dalam ‘ Barbarosa’  adalah Memprioritaskan Penguasaan Terhadap  Ukraina dan Rusia selatan  ( Krimea dan  Kauskasia). Disanalah Sumber Ekonomi utama pihak Soviet Rusia. Ukraina adalah  penghasil utama bahan makanan milik Soviet Rusia.  Krimea dan Kaukasia  adalah penghasil Logam dan Minyak Bumi Utama Soviet Rusia.  Bahan makanan, minyak bumi dan Logam ( bahan mentah) adalah Prioritas utama dari Strategi Sang Fuhrer.  Menguasai Wilayah wilayah SDA utama Soviet Rusia ini akan memampukan Jerman untuk terus berperang, dan sebaliknya akan menguras habis habisan daya Soviet Rusia untuk melanjutkan Perang.
     Sementara ‘St Petersburg’ dan ‘Moskow’ hanyalah sasaran Politik dan geografis,  tidak terlalu vital dalam sebuah skenario perang akbar. Saint Petersburg ( Leningrad) adalah sasaran yang bersifat Politis. Dari sinilah Lahirnya ‘ Komunisme Internasional’.  Dengan Meruntuhkan Saint Petersburg, artinya meruntuh kebanggaan diri orang orang Komunis Dunia.  Sementara Moskow jauh lebih tidak penting lagi dalam pandangan Sang Fuhrer. Ibukota Soviet itu, hanyalah sasaran Geografis. Tidak terlalu banyak keuntungan real yang akan didapatkan dari penaklukkan Moskow.
     Berbeda dengan pendapat Sang Fuhrer, Dewan Jenderal  yang dipimpin oleh ‘Brauchitsch’ berpendapat sebaliknya. Mereka berpandangan bahwa ‘Moskow’ adalah sasaran utama dari Barbarosa. Mereka bersepakat mencurahkan Segala daya upaya utama untuk menguasai ‘Moskow’. Menurut pendapat Dewan Jenderal, Tentara Merah Soviet akan kehilangan motivasi berperang jika ibukota mereka ditaklukkan. Dengan demikian Jerman akan menang Perang.  
     Disamping alasan taktis tersebut,  penaklukkan ‘Moskow’  tentu saja jauh lebih bergengsi dibandingkan dengan penaklukkan ‘Kiev, Rostov, Kharkov, Volgograd, Astrakhan ’,  kota kota  Rusia selatan yang tidak dikenal dunia internasional tersebut. Jika mendengar kata Rusia  disebut, maka orang akan otomatis mengasumsikannya dengan  ‘Moskow’ dan ‘ Saint Petersburg’, yang lainnya. Ada Prestise dan kebanggaan untuk menjadi Penakluk ‘Kota Moskow’ ;  Dunia internasional akan menyimak  dan mengikuti detik demi detik jatuhnya Moskow ini.
     Begitulah Ketika Barbarosa dimulai.  Dimulai dengan perbedaan pendapat bertolak belakang antara sang pemimpin ( Fuhrer) dengan para jenderalnya.  Walau akhirnya didepan sang Fuhrer para dewan Jenderal pura pura setuju untuk melaksanakan Strategi utama sang Fuhrer, tapi di belakang,  sesama mereka telah bersepakat untuk menjalankan ‘Barbarosa’ versi Dewan Jenderal,  bersepakat untuk menguasai Moskow sebagai Prioritas Utama.

To be Continued . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar